Back to all articles
Marketplace

Live Shopping & Social Commerce Jadi Standar Baru, Bukan Lagi Sekadar Tren

Mei 2026 3 menit baca

Cara konsumen berbelanja terus berubah. Jika sebelumnya proses belanja dimulai dari pencarian produk di marketplace, kini semakin banyak keputusan pembelian terjadi langsung di dalam konten, melalui live shopping, video pendek, hingga interaksi real-time antara seller dan audience.

Social commerce yang dulu dianggap pelengkap kini mulai menjadi salah satu channel utama penjualan.

Pertumbuhannya pun tidak kecil. TikTok Shop Indonesia mencatat pertumbuhan yang signifikan, dengan nilai transaksi yang terus meningkat dan performa yang melampaui tahun sebelumnya hanya dalam beberapa bulan pertama. Di saat yang sama, live shopping juga menunjukkan tingkat konversi yang lebih tinggi dibanding pola belanja e-commerce konvensional.

Bagi banyak bisnis, pertanyaannya bukan lagi apakah perlu live selling, tetapi seberapa cepat bisa beradaptasi.

Konsumen Tidak Lagi Hanya Membeli Produk, Tapi Pengalaman

Live shopping mengubah cara orang berbelanja. Pelanggan tidak hanya melihat foto produk atau membaca deskripsi, tetapi juga:

  • Melihat demonstrasi produk secara langsung

  • Bertanya dan mendapat jawaban real-time

  • Melihat interaksi pengguna lain

  • Merasakan urgensi melalui promo dan penawaran terbatas

Proses pembelian menjadi lebih cepat, interaktif, dan personal. Inilah yang membuat banyak brand mulai menjadikan live shopping sebagai bagian dari strategi penjualan utama.

Live Commerce Bukan Sekadar Siaran, Tapi Obrolan Dua Arah

Berbeda dengan e-commerce konvensional yang mengandalkan pencarian dan katalog produk, live shopping dibangun di atas interaksi.

Pelanggan bertanya secara langsung, meminta rekomendasi, membandingkan produk, hingga mengambil keputusan pembelian dalam hitungan menit. Artinya, proses penjualan tidak lagi berhenti saat live selesai.

Justru setelah traffic datang, bisnis perlu menjaga momentum tersebut melalui respon yang cepat, follow-up yang tepat, dan interaksi yang berkelanjutan.

Di sini banyak bisnis mulai melihat bahwa social commerce bukan hanya soal “jualan saat live”, tetapi bagaimana membangun percakapan dengan pelanggan di berbagai touchpoint.

Dari Traffic ke Relationship

Semakin banyak brand mulai menggabungkan live shopping dengan channel lain seperti WhatsApp, customer support, hingga komunikasi pasca pembelian untuk menjaga engagement dan mendorong repeat transaction.

Melalui solusi berbasis AI, Diva membantu bisnis mengelola interaksi pelanggan secara lebih terintegrasi, mulai dari customer engagement, transaction journey, hingga pengalaman pelanggan setelah pembelian.

Karena di era social commerce, memenangkan penjualan sekali saja tidak lagi cukup. Yang menjadi pembeda adalah seberapa baik bisnis mampu mengubah interaksi menjadi hubungan jangka panjang.

Get started

Put Diva to work today.

Connect your stores once and let Diva run your marketplace ads end-to-end — across every channel that matters.

AI optimizes 24/7Setup in minutesCancel anytime
Runs ads across
Shopee
TikTok Shop
Tokopedia
Lazada